Balikpapan Siaga El Nino 2026, PTMB Siapkan Strategi Besar Jaga Ketahanan Air Kota

$rows[judul]

poroskaltim.com, Balikpapan - Ancaman El Nino 2026 yang diperkirakan lebih kering dari tahun 2023 mendorong Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) menyiapkan strategi besar berbasis skenario krisis untuk menjaga pasokan air bersih tetap aman.

Dalam dokumen “Ekspose Strategis 2026” yang dipaparkan dalam rapat koordinasi lintas instansi, Rabu (6/5/2026), PTMB memetakan secara rinci potensi gangguan sistem air bersih akibat defisit curah hujan hingga 40 persen dan tingkat penguapan yang diperkirakan melampaui 6 milimeter per hari.

Sistem penyediaan air Balikpapan saat ini masih bergantung pada Waduk Manggar sebagai sumber utama dengan kapasitas sekitar 1.150 liter per detik, serta Waduk Teritip sebagai penopang dengan kapasitas sekitar 220 liter per detik. Selain itu, kontribusi air tanah dalam mencapai lebih dari 280 liter per detik yang tersebar di sejumlah wilayah layanan.

Dengan kapasitas terpasang mencapai 1.510 liter per detik dan produksi sekitar 1.492 liter per detik, sistem saat ini dinilai belum cukup aman menghadapi tekanan El Nino. Tanpa intervensi, gangguan distribusi diprediksi akan terjadi terutama pada jam-jam puncak konsumsi.

Tiga Pilar Strategi Hadapi Krisis

Mengantisipasi kondisi tersebut, PTMB bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Wilayah IV merumuskan tiga pilar utama. Pertama, optimalisasi infrastruktur melalui evaluasi operasi waduk. Kedua, penambahan kapasitas darurat hingga 342 liter per detik. Ketiga, penerapan langkah kontingensi seperti distribusi air tangki dan pengoperasian instalasi pengolahan air bergerak (IPA Mobile).

Puncak krisis diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026, saat kekeringan meluas dari Jawa ke Kalimantan dan Sulawesi. Sementara fase awal El Nino diperkirakan berlangsung pada Mei hingga Juli.

Waduk Terancam Masuk Zona Kritis

Hasil simulasi menunjukkan tekanan berat terhadap dua waduk utama. Dalam skenario ekstrem, debit masuk air hanya mencapai 50 persen dari kondisi normal, sementara pengambilan air harus ditekan hingga 75 persen.

Dampaknya, Waduk Manggar diproyeksikan menyentuh batas minimum operasional pada akhir November hingga awal Desember 2026. Sementara Waduk Teritip berpotensi menyusul pada akhir Desember.

Strategi ini disebut sebagai upaya “membeli waktu” agar kedua waduk tidak mengalami kegagalan operasional sebelum pergantian tahun.

Pengurangan Distribusi Bertahap

Untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air, PTMB akan menerapkan pengurangan distribusi secara bertahap sejak April hingga Juli, dengan penurunan sekitar 5 persen per bulan. Memasuki Agustus hingga Desember, pembatasan dilakukan lebih ketat guna menahan laju penyusutan volume air.

Pendekatan ini dipilih untuk menghindari penurunan drastis yang berpotensi menimbulkan gejolak di masyarakat sekaligus memberi waktu adaptasi bagi pelanggan.

Risiko Teknis Mengintai

Selain kekurangan air, sistem juga menghadapi ancaman teknis serius. Suhu tinggi dapat memicu ledakan alga yang berpotensi menyumbat saluran intake. Penurunan muka air juga berisiko menyebabkan kavitasi yang dapat merusak pompa, serta meningkatkan kekeruhan air yang berdampak pada biaya pengolahan.

Strategi Hulu hingga Hilir

PTMB menyiapkan intervensi berlapis di seluruh sistem. Di hulu, dilakukan penguncian pintu spillway untuk menahan air, pembersihan gulma, serta pemasangan pompa terapung guna mengakses cadangan air di zona kritis.

Sumber air alternatif juga dioptimalkan melalui pemanfaatan bendungan pengendali, embung, serta revitalisasi sumur bor di beberapa wilayah.

Di sisi produksi, dilakukan penyesuaian dosis bahan kimia dan perbaikan instalasi pengolahan air. Sementara di jaringan distribusi, PTMB akan menerapkan sistem penggiliran air jika produksi turun di bawah 75 persen, serta memperkuat infrastruktur seperti pompa dan zona distribusi untuk menekan kebocoran.

Pada tahap hilir, distribusi darurat akan dilakukan melalui truk tangki dan tandon komunal. IPA Mobile juga disiapkan untuk mengolah air dari sumber alternatif dan langsung didistribusikan ke masyarakat.

Sistem Komando Terpadu

Seluruh strategi ini didukung sistem komando terpadu lintas sektor, melibatkan berbagai pihak termasuk BMKG sebagai penyedia data iklim, serta instansi teknis lainnya dalam pengelolaan sumber daya air. Pemerintah kota juga didorong untuk mengaktifkan pusat krisis guna memantau kondisi waduk secara real-time serta menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Tantangan Nyata di Depan Mata

Dokumen tersebut menegaskan bahwa puncak defisit air pada Agustus–September 2026 merupakan ancaman nyata yang membutuhkan langkah di luar kebiasaan.

Dengan strategi berlapis dari hulu hingga hilir, PTMB optimistis mampu menjaga ketahanan air kota. Namun, keberhasilan upaya ini juga sangat bergantung pada kesiapan sistem serta kesadaran masyarakat dalam menggunakan air secara bijak. (**)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)