Drainase RT 03 Batu Ampar, Ambruk Diterjang Hujan Deras.

$rows[judul]

rumahhijaurakyat.com, BALIKPAPAN — Hujan deras yang mengguyur Kota Balikpapan dalam beberapa hari terakhir menyebabkan kerusakan infrastruktur di sejumlah titik. Salah satunya terjadi di Jalan Telindung 3, Gang Annassai RT 03, Kelurahan Batu Ampar, Kecamatan Balikpapan Utara, di mana sebuah siring dilaporkan ambruk dan dinding drainase roboh.


Peristiwa tersebut terjadi setelah intensitas hujan tinggi mengguyur kawasan itu selama dua hari berturut-turut. Akibatnya, struktur penahan tanah tidak mampu menahan tekanan air dan beban tanah yang terus meningkat. Kondisi ini menyebabkan longsoran material yang turut merobohkan dinding drainase di lokasi tersebut.

Drainase yang terdampak diketahui merupakan jalur penting aliran air, karena menjadi titik pertemuan pembuangan dari dua rukun tetangga (RT). Dengan peran vital tersebut, kerusakan yang terjadi tidak hanya menghambat aliran air, tetapi juga meningkatkan risiko genangan hingga potensi banjir di lingkungan sekitar.

Tak hanya itu, material longsoran berupa tanah dan batu juga menutup sebagian akses jalan warga. Situasi ini tentu mengganggu aktivitas masyarakat setempat serta menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian.

Melihat kondisi tersebut, warga RT 03 Kelurahan Batu Ampar, segera mengambil langkah cepat. Secara swadaya, mereka menggelar kegiatan gotong royong untuk membersihkan material longsor yang menutup saluran air dan badan jalan.

Kegiatan kerja bakti yang dilakukan pada Minggu (29/3/2026) pagi itu dipimpin langsung oleh Ketua RT setempat, Pardi. Bersama warga, ia turun langsung ke lokasi untuk mengoordinasikan pembersihan sekaligus melakukan penanganan sementara terhadap drainase yang rusak.

Dalam keterangannya, Pardi menjelaskan bahwa kondisi drainase di wilayah tersebut memang sejak lama menjadi muara aliran air dari beberapa RT di sekitarnya. Hal ini membuat debit air yang mengalir menjadi cukup besar, terutama saat hujan deras terjadi dalam waktu yang cukup lama.

Menurutnya, kombinasi antara tingginya volume air dan tekanan tanah yang jenuh air menjadi penyebab utama ambruknya siring. Struktur yang ada dinilai tidak lagi mampu menahan beban, sehingga akhirnya runtuh dan menyeret bagian drainase di sekitarnya.

“Drainase ini memang menjadi pertemuan aliran air dari beberapa RT. Saat hujan deras dua hari lalu, volume air meningkat drastis dan mendorong tanah hingga siring tidak kuat menahan beban. Akibatnya, dinding drainase ikut roboh tertimpa material longsor,” jelas Pardi.

Ia juga menambahkan bahwa selain merusak drainase, longsoran tersebut sempat menutup akses jalan warga. Oleh karena itu, penanganan cepat dilakukan secara gotong royong agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal, meskipun masih bersifat sementara.

Meski warga telah melakukan upaya penanganan awal, Pardi menegaskan bahwa kondisi tersebut memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah. Ia berharap adanya tindak lanjut berupa perbaikan permanen agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Menurutnya, jika tidak segera ditangani, kerusakan yang ada berpotensi semakin parah, terlebih jika hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi dalam waktu dekat. Hal ini dikhawatirkan dapat memicu longsor susulan yang berisiko mengancam keselamatan warga.

“Kami khawatir jika hujan kembali turun deras, kondisi ini bisa semakin parah. Bahkan ada beberapa rumah warga yang jaraknya cukup dekat dengan lokasi kejadian, sehingga berpotensi terdampak,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa harapan tersebut merupakan aspirasi bersama warga yang menginginkan adanya penanganan cepat dari pihak terkait. Mengingat kejadian ini dipicu oleh faktor alam, masyarakat berharap pemerintah dapat memberikan perhatian khusus dalam upaya mitigasi bencana ke depan.

Selain perbaikan fisik, warga juga berharap adanya evaluasi terhadap sistem drainase di kawasan tersebut, terutama pada titik-titik yang menjadi pertemuan aliran air dari beberapa wilayah. Hal ini dinilai penting guna mencegah terjadinya penumpukan debit air yang dapat memicu kerusakan serupa di masa mendatang.

Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapan infrastruktur dalam menghadapi cuaca ekstrem, terutama di kawasan dengan kontur tanah yang rawan longsor. Kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dinilai menjadi kunci dalam meminimalkan dampak bencana serta menjaga keselamatan lingkungan sekitar.(mnw) 

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)